Kamis, 18 Februari 2016

Lucid Dream

Di toko buku, aku mencari sebuah buku bersampul ungu dan bergambar pita berwarna hitam. Aku tidak mengerti mengapa aku mencari buku tersebut, seperti tanpa komando aku melakukannya. Hampir ratusan kali aku bertanya pada orang disekitar sini mengenai buku tersebut, namun tak ada satupun yang tahu.
“Buuuggg…..!” tak sengaja aku menabrak pintu masuk toko tersebut. Sesungguhnya tidak sakit, namun entah mengapa tubuhku langsung ambruk sesaat dan pening mulai terasa dikepalaku.
“Giana, kamu kenapa?” sapaan tersebut terdengar sangat asing ditelingaku. Sepertinya aku belum pernah mendengar suara orang tersebut. Saat aku memalingkan wajah, terlihat lelaki tersebut sedang menatapku penuh ceria dengan senyuman yang lebar tanpa ada rasa kasihan padaku. Itu bukan masalah bagiku, untung saja dia tampan, kalau tidak mungkin sudah aku tendang jauh-jauh dari hadapanku.
Perjelas mimpiku! Inilah mimpiku! Aku sang pengendali mimpi!
“Kamu siapa? Kenapa kamu tahu namaku?” tanyaku dengan serius.
“Kamu aneh deh, kita kan pacaran.” seketika dia bingung dengan pertanyaanku. Aku berusaha menemukan solusi agar aku dapat mengetahui namanya tanpa sepengetahuan lelaki ini.
Anggap saja dia “Mochi”. Lihat saja pipinya yang gendut.
“Mochi kita makan yuk, perutku terasa sangat lapar.”
“Ayo, aku juga lapar.” dia merespon baik ajakanku.
Semua yang aku lakukan pasti benar.
***************************************************************

Jumat, 23 Oktober 2015

Pertemuan Pertama




“Giana! Bapak mengerti akan kecerdasan yang kau miliki. Namun, kau harus menghargai profesi saya sebagai guru!”.

Sungguh, aku tidak ingin mendengar kata-kata tersebut, apalagi seluruh anak kelas menyaksikannya juga. Teladan, cerdas, berprestasi, cantik, bertubuh ideal, geraian rambut yang mempesona, apalagi yang kurang dari seorang Giana?

“Maaf pak, saya benar-benar sungguh minta maaf.” dan ekspresi melasku mungkin sama sekali tidak dapat menggoyahkan keputusan beliau untuk mengeluarkanku dari kelas. Ini baru pertama kalinya beliau melihat secara langsung diriku tertidur di kelas, sisanya aku berhasil bangun dengan segera. Kali ini, bukan masalah kantuk yang membuatku tertidur dikelas. Ada satu hal yang membuatku bingung dan itu sangat menggangguku! Bisa kau bayangkan, semenjak 16 hari yang lalu, setiap harinya di dalam loker ku temukan sebuah kartu yang tak jelas makna dan asal-usulnya. Awalnya aku pikir dia adalah seorang penggemar rahasiaku yang secara malu untuk mengungkapkannya. Namun, bukan bunga, boneka, atau coklat yang ia kirim. Hanya sebuah kertas putih berukuran 12cmx8cm yang bertuliskan nama lengkapku dan terdapat hari, tanggal, bulan, dan tahun saat kartu tersebut diterima.

Setelah keluar dari kelas rasanya ingin sekali berbaring diatas rumput. Menurutmu tempat yang menarik dimana? Lapangan? 15 menit kulit cerahku ini seketika akan menjadi eksotis. Tempat favorit kami saat bosan, senang ataupun sedih dan tempat tersebut adalah bukit belakang sekolah yang penuh dengan pohon-pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi yang singgah lewat di tempat tersebut membuat kami betah berlama-lama disana.

“Buuggg!”. Aku rasa dia sedang tidur, jelas-jelas aku sedang terburu-buru, namun dia menabrakku dengan sengaja. Aku berusaha untuk tetap acuh dan tidak ingin memperpanjang masalah ini. Cukup dengan tatapan arogan dari seorang Giana, pasti dia sudah langsung muak dan akan berusaha melupakan masalah ini. Ah sudahlah, aku tidak peduli dia muak, atau sakit perut sekalipun, karena yang terpenting sekarang aku dapat tidur!

Senin, 24 November 2014

Aksi Jemput Sampah

Tepatnya tanggal 1 November 2014, kami dari SMA Negeri Banyumas mendapatkan mandat untuk mengikuti acara "Aksi Jemput Sampah" yang diadakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyumas yang akan diadakan di Andhang Pangrenan. Salah satu aksi yang patut diacungi jempol karena peserta yang mengikuti aksi tersebut adalah siswa dan siswi SMA. 

Kamis, 31 Juli 2014

Bermalam di Kantor

Jam dinding telah menunjukkan pukul 22.52 WIB. Kurasakan lelah dan sekujur tubuhku kaku karena sudah berpuluh-puluh jam duduk dikursi kantor. Leherku serasa tercekik oleh tangan berdarah dingin dan itu rasanya sangat menyiksa.

Ketukan Jendela

Keysha, bocah berusia 3 tahun itu memang hyperactive. Semua hal dilakukannya kecuali matanya tepejam tidur. Namun untuk menidurkannya pun bukan perkara yang mudah. Tak jarang hingga tengah malam dia bisa tidur karena kecapean. Bermacam cara telah dilakukan supaya si kecil ini gampang di ajak ke tempat tidur. Sampai suatu hari waktu sudah menunjuk pukul 9 malam, namun belum ada tanda-tanda sikecil mengantuk.

Sapi Berambut

Setiap hari, ibuku selalu pergi ke pasar membeli berbagai keperluan masak seperti sayuran, daging, bumbu-bumbu, dan masih banyak lagi. Ibu memiliki langganan toko daging, ya mungkin karena kualitas yang diperdagangkan bagus .Namun tersiar kabar, adik perempuan dari sang pemilik toko daging tersebut baru saja meninggal.

Sendirian di Kelas

Sudah menjadi kebiasaanku berangkat sekolah pagi sekali. Biasanya, pintu kelas masih tertutup meskipun gemboknya telah terlepas. Dengan segera, kubuka pintu kelas dan langsung kunyalakan lampu karena hari belum begitu cerah. " Tuhkan, aku sendirian lagi dikelas". Aku tidak suka dengan suasana kelas dengan lampu mati. Tanpa berpikir panjang, segera ku letakkan tas dikursi dan berlari meninggalkan kelas.





Maaf kalo aneh^^