Di toko buku, aku mencari sebuah buku bersampul ungu
dan bergambar pita berwarna hitam. Aku tidak mengerti mengapa aku mencari buku
tersebut, seperti tanpa komando aku melakukannya. Hampir ratusan kali aku
bertanya pada orang disekitar sini mengenai buku tersebut, namun tak ada
satupun yang tahu.
“Buuuggg…..!” tak sengaja aku menabrak pintu masuk
toko tersebut. Sesungguhnya tidak sakit, namun entah mengapa tubuhku langsung
ambruk sesaat dan pening mulai terasa dikepalaku.
“Giana, kamu kenapa?” sapaan tersebut terdengar
sangat asing ditelingaku. Sepertinya aku belum pernah mendengar suara orang
tersebut. Saat aku memalingkan wajah, terlihat lelaki tersebut sedang menatapku
penuh ceria dengan senyuman yang lebar tanpa ada rasa kasihan padaku. Itu bukan
masalah bagiku, untung saja dia tampan, kalau tidak mungkin sudah aku tendang
jauh-jauh dari hadapanku.
Perjelas
mimpiku! Inilah mimpiku! Aku sang pengendali mimpi!
“Kamu siapa? Kenapa kamu tahu namaku?” tanyaku
dengan serius.
“Kamu aneh deh, kita kan pacaran.” seketika dia
bingung dengan pertanyaanku. Aku berusaha menemukan solusi agar aku dapat
mengetahui namanya tanpa sepengetahuan lelaki ini.
Anggap saja dia
“Mochi”. Lihat saja pipinya yang gendut.
“Mochi kita makan yuk, perutku terasa sangat lapar.”
“Ayo, aku juga lapar.” dia merespon baik ajakanku.
Semua yang aku
lakukan pasti benar.
***************************************************************
“Kau tidak kenal dengan Giana? Siswi berprestasi yang cantik dan idola semua siswa. Kau sungguh tidak kenal?” Pandu menjawab pertanyaanku dengan penuh kuah rasa soto.
“Memangnya dia secantik siapa? Aku benar-benar tidak
mengenalnya.”
“Aku juga tidak tahu dia secantik siapa, mungkin
ibunya?”
Jika benar dia
yang bernama Giana, aku sungguh tidak percaya jika dia cantik.
“Eh, kau lapar tidak? Jika kau lapar aku berniat
mengajak kau ke kantin.” namun sayangnya aku tidak lapar.
Sebagai lelaki tertampan disekolah, hampir setiap
saat aku merasa tidak nyaman karena godaan dari para gadis kampungan selalu
datang menghampiriku. Seperti gadis yang bernama Giana, menurutku dialah yang
paling kampungan. Bryan William Henry, kebanyakan orang menyapaku Henry. Banyak
yang mengira diriku melakukan operasi pada bagian hidung, namun sungguh aku
tidak pernah melakukan hal tersebut. Bukankah wajar hidung mancungku ini
didapat karena aku adalah keturunan Turki-Kanada? Kini aku tinggal bersama
seorang pengasuh di Jakarta. Tepatnya di Jakarta Pusat.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan November
aku sempat berusaha kabur dari rumah untuk menenangkan pikiranku. Tanpa adanya
persiapan, aku hanya membawa beberapa helai pakaian saja dan sebotol air
mineral yang kubeli di dekat rumahku. Harap-harap cemas aku mencari agen bus
yang bersedia menjualkan tiketnya untuk pemberangkatan malam ini juga. Sungguh
sang hoki sedang berada dipihakku, aku berhasil mendapatkan tiket untuk
pemberangkatan pukul 19:30 WIB. Kedua orang tuaku tidak akan tahu jika aku
kabur, hanya saja Pak Amir yang akan cemas karena aku pergi tanpa berpamitan.
Beliaulah yang selama hampir 14 tahun merawatku dan mungkin aku lebih bahagia
jika beliau yang menjadi ayah kandungku. Tujuan kepergianku kali ini adalah
Garut, tempat dimana nenek tercintaku menetap dan banyak sekali kembang-kembang
desa yang lumayan dapat menyegarkan mata gersangku. Bus yang ditunggu telah
datang dan aku segera masuk untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku
sengaja tidak memberitahu nenek dengan alasan pasti beliau tidak senang jika
aku datang disaat hari libur belum tiba.
“Kenapa AC-nya dingin banget…” tumben aku merasa
kedinginan karena AC, atau mungkin gejala-gejala meriyang (bisa jadi merindukan
kasih sayang) mulai timbul disaat aku kabur seperti ini. Semoga Pak Amir tidak
cemas padaku.
Dan akhirnya
kantuk mulai menghampiriku. Saatnya tidur dan menyambut mimpi yang indah.
”Mau apa kamu
kesini hah? Anak nakal, tidak punya masa depan, cepat pulang kerumahmu hah!
Dasar anak suram, cepat pulang hah!!!”
“Neneeeeeekkkkkkk!!!”
“Mas, ada apa teriak-teriak? Ada hantu?” tanya
seseorang yang berada disamping kursiku. Aku hanya menggelengkan kepala sambil
mengelap keringat dingin yang terus saja mengucur dari dahiku. Mimpi yang jauh
dari kata indah dan datang pada momen yang sangat tidak tepat. Apa aku harus
pulang disaat perjalanan sudah lebih dari separuhnya? Pasti ini karena
kekhawatiran Pak Amir, aku harus segera memberitahunya.
*************************************************************
“Aku berhasil ley, aku sudah bisa mengendalikan dan
memainkan cerita dengan baik.” kami berdua tengah duduk santai di bawah pohon
sambil menikmati pedasnya mie rasa bumbu balado. Nampaknya respon temanku ini
tidak terlalu heboh, tidak seperti diriku yang sedang terus mengingat-ingat
wajah “Mochi” dan berharap aku bisa meneruskan mimpiku yang terpotong akibat bunyi
alarm handphoneku.
“Jangan senang dulu, terkadang kenyataan itu tidak
seindah apa yang kau kendalikan di mimpi tersebut. Sebaiknya kau pilih mimpi
yang lain saja.” Aley memberiku saran yang sedikit membuat aku bingung.
Bukankah hal yang aku impikan itu adalah fiksi? Dan berarti apapun yang aku
impikan pasti tidak akan aku temui di kehidupan nyata.
Tidak akan ada
yang dapat menggoyahkan prinsipku!
“Terserah, jika kau ingin seperti itu. Jangan pernah
menyalahkanku.” setelah itu, Aley pergi meninggalkanku sendirian.
Mochi Mochi
Mochi, jangan khawatir aku pasti akan datang dan menemuimu malam ini.
Menurutmu apa tema yang harus aku pikirkan? Aku
tidak ingin mimpiku malam ini terasa membosankan. Atau mungkin aku harus
membayangkan kami berdua memiliki sayap dan saling berpegangan tangan, kemudian
kami terbang menuju langit ketujuh. Itu sungguh kekanak-kanakkan!
Kau tidak perlu
memikirkannya. Ikuti saja mimpimu seperti air yang mengalir.
“Benar juga, kenapa aku harus bingung? Ikuti
saja mimpinya hahahaha…..” sudahlah, bosan sekali rasanya. Lebih baik aku pergi
dan bersiap-siap menanti bel berbunyi. Disaat aku hampir berada di depan kelas,
tidak sengaja aku melihat seseorang yang sepertinya tidak asing dimataku.
Permainan
sebuah mimpi memang menyenangkan, namun terkadang emosional seseoranglah yang
mengubah mimpi indah tersebut menjadi mimpi yang tragis dan bahkan mencekam.
Jangan sampai kau terlarut dalam permainanmu, jangan sampai kau tidur terlalu
lelap dan melupakan sebuah fakta. Ambillah manfaat dari permainan tersebut agar
kau jangan sampai terjebak dalam suatu lubang yang dalam akibat keegoisanmu
terhadap kehidupan nyata.
“Sepertinya aku kenal sama orang itu. Pipinya gendut
seperti…..”
Bersambung…………………………………

Tidak ada komentar:
Posting Komentar