“Giana! Bapak mengerti akan kecerdasan yang kau
miliki. Namun, kau harus menghargai profesi saya sebagai guru!”.
Sungguh, aku tidak ingin mendengar kata-kata
tersebut, apalagi seluruh anak kelas menyaksikannya juga. Teladan, cerdas, berprestasi,
cantik, bertubuh ideal, geraian rambut yang mempesona, apalagi yang kurang dari
seorang Giana?
“Maaf pak, saya benar-benar sungguh minta maaf.” dan
ekspresi melasku mungkin sama sekali tidak dapat menggoyahkan keputusan beliau
untuk mengeluarkanku dari kelas. Ini baru pertama kalinya beliau melihat secara
langsung diriku tertidur di kelas, sisanya aku berhasil bangun dengan segera.
Kali ini, bukan masalah kantuk yang membuatku tertidur dikelas. Ada satu hal
yang membuatku bingung dan itu sangat menggangguku! Bisa kau bayangkan,
semenjak 16 hari yang lalu, setiap harinya di dalam loker ku temukan sebuah
kartu yang tak jelas makna dan asal-usulnya. Awalnya aku pikir dia adalah
seorang penggemar rahasiaku yang secara malu untuk mengungkapkannya. Namun,
bukan bunga, boneka, atau coklat yang ia kirim. Hanya sebuah kertas putih
berukuran 12cmx8cm yang bertuliskan nama lengkapku dan terdapat hari, tanggal,
bulan, dan tahun saat kartu tersebut diterima.
Setelah keluar dari kelas rasanya ingin sekali berbaring
diatas rumput. Menurutmu tempat yang menarik dimana? Lapangan? 15 menit kulit
cerahku ini seketika akan menjadi eksotis. Tempat favorit kami saat bosan,
senang ataupun sedih dan tempat tersebut adalah bukit belakang sekolah yang
penuh dengan pohon-pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi yang singgah lewat di
tempat tersebut membuat kami betah berlama-lama disana.
“Buuggg!”. Aku rasa dia sedang tidur, jelas-jelas
aku sedang terburu-buru, namun dia menabrakku dengan sengaja. Aku berusaha
untuk tetap acuh dan tidak ingin memperpanjang masalah ini. Cukup dengan
tatapan arogan dari seorang Giana, pasti dia sudah langsung muak dan akan
berusaha melupakan masalah ini. Ah sudahlah, aku tidak peduli dia muak, atau
sakit perut sekalipun, karena yang terpenting sekarang aku dapat tidur!
*******************************************************
Januari, 5 2015
“Giana, apa kau sudah mempersiapkan fisikmu dengan
baik? Kau tahu kan hari ini kau harus melakukan 5 penilaian sekaligus?” Aley
bertanya padaku dengan sedikit ragu. Nama lengkapnya Ashley Rinanti, dan hanya
aku yang memanggilnya Aley.
“Sepiring nasi, 1 butir telur rebus, 1 buah paha
ayam, 1 helai daun selada dan segelas susu rasa coklat. Menurutmu aku akan
sanggup atau muntah? Karena sekarang perutku terasa sangat menyebalkan.”
jawabku sambil terus menepuk-nepuk perut dengan keras. Disaat masuk angin
ternyata makanan dapat mempengaruhi perutku, jangan sampai kejadian memalukan
itu terjadi saat olahraga.
Lari 1200 meter
Hah! Rasanya aku ingin mati saja, ini sungguh tidak
adil bagiku. Hanya karena pergi ke luar kota, aku mendapat perlakuan diskriminasi.
Aley bercerita padaku, lari 1200 meter itu dilakukan dengan mengitari ruang
seni sampai ruang gudang sebanyak 4 kali tanpa harus diawasi oleh bu guru. Dia
melakukannya dengan jalan santai, bahkan dia sempat pergi ke kamar mandi untuk
membenarkan rambutnya yang berantakan. Tidak bagiku, berlari 2 kali
mengelilingi lapangan sekolah, tidak boleh jalan, dan selalu diawasi oleh mata
kejamnya. Alhasil, waktu yang kudapat adalah 4 menit lebih 34 detik.
Lari 60 meter
Hal yang ku benci saat ini adalah aku tidak diberi
kesempatan untuk memilih, setidaknya aku akan memilih olahraga ringan terlebih
dahulu.
“Bersedia, siap, mulai……” yang aku pikirkan saat ini
adalah rumus-rumus matematika. Itulah pengalih paling jitu disaat aku mulai
merasakan mual yang sangat dahsyat.
“Cukup!”
Sit Up
“17,18,19,20….”
“Cukup! Payah sekali kamu. Kenapa Cuma dapat 20 saja
dalam 1 menit?” terserah apa yang ingin dia katakan, aku tak akan peduli.
“Sit Up aku dapat sebanyak 31 kali.” Senyum licik
Aley terus membekas dalam otakku. Pantas saja dia mendapatkan sebanyak itu,
saat lari 1200 meter dia melakukannya selama 13 menit lebih 54 detik.
Tenggorokanku terasa tercekik, perutku terasa sangat berat, dan lidahku terasa
sangat pahit. Desakkan para oksigen yang ingin masuk ke dalam hidung membuat
nafasku semakin terengah-engah.
Pull Up
“Sudahlah, sebaiknya kau menyerah saja. Badanmu itu
tak seringan seperti yang kau bayangkan.” Akhirnya aku memutuskan untuk turun
dari tiang tersebut.
“Akan kutawarkan sebuah kesepakatan dari seluruh
siswa perempuan. Apa kau mau?” jawaban Aley sedikit membuatku tenang.
“Kesepakatan? Apa maksudmu?”
“Bagi siswa perempuan yang tidak bisa melakukan pull
up dengan baik, maka akan diberi poin sebanyak 1. Apa kau tertarik?” akhirnya
aku setuju dengan kesepakatan tersebut tanpa pengawasan dari bu guru.
Lompat Vertikal
“Aku yakin, kau akan unggul dalam penilaian ini.”
Aley terlalu memuji. Tangan kanan ku angkat lalu ku dempetkan ke dinding,
kemudian dengan cara yang sama aku melompat dengan tinggi.
“Perbedaannya adalah 80 cm, wah sudah ku duga kau
ini memang panjang tangan.” Kata Aley padaku.
***************************************************************
“Buuggg!”
Diam saja? Mana kata maaf darimu? Kau telah
menganggu ketenanganku, aku berjalan santai dengan alunan musik dari earphoneku
namun dengan sengaja kau menabrakku tanpa mengatakan maaf? Itulah modus para
wanita saat ini, dia sengaja menjatuhkan kartu namanya di tengah jalan. Tidak
ada maksud lain, aku mengambil kartu tersebut hanya sebagai formalitas saja.
Giana
Anggun Lestari
20
Januari 2015
Bersambung…………….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar