Jumat, 23 Oktober 2015

Pertemuan Pertama




“Giana! Bapak mengerti akan kecerdasan yang kau miliki. Namun, kau harus menghargai profesi saya sebagai guru!”.

Sungguh, aku tidak ingin mendengar kata-kata tersebut, apalagi seluruh anak kelas menyaksikannya juga. Teladan, cerdas, berprestasi, cantik, bertubuh ideal, geraian rambut yang mempesona, apalagi yang kurang dari seorang Giana?

“Maaf pak, saya benar-benar sungguh minta maaf.” dan ekspresi melasku mungkin sama sekali tidak dapat menggoyahkan keputusan beliau untuk mengeluarkanku dari kelas. Ini baru pertama kalinya beliau melihat secara langsung diriku tertidur di kelas, sisanya aku berhasil bangun dengan segera. Kali ini, bukan masalah kantuk yang membuatku tertidur dikelas. Ada satu hal yang membuatku bingung dan itu sangat menggangguku! Bisa kau bayangkan, semenjak 16 hari yang lalu, setiap harinya di dalam loker ku temukan sebuah kartu yang tak jelas makna dan asal-usulnya. Awalnya aku pikir dia adalah seorang penggemar rahasiaku yang secara malu untuk mengungkapkannya. Namun, bukan bunga, boneka, atau coklat yang ia kirim. Hanya sebuah kertas putih berukuran 12cmx8cm yang bertuliskan nama lengkapku dan terdapat hari, tanggal, bulan, dan tahun saat kartu tersebut diterima.

Setelah keluar dari kelas rasanya ingin sekali berbaring diatas rumput. Menurutmu tempat yang menarik dimana? Lapangan? 15 menit kulit cerahku ini seketika akan menjadi eksotis. Tempat favorit kami saat bosan, senang ataupun sedih dan tempat tersebut adalah bukit belakang sekolah yang penuh dengan pohon-pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi yang singgah lewat di tempat tersebut membuat kami betah berlama-lama disana.

“Buuggg!”. Aku rasa dia sedang tidur, jelas-jelas aku sedang terburu-buru, namun dia menabrakku dengan sengaja. Aku berusaha untuk tetap acuh dan tidak ingin memperpanjang masalah ini. Cukup dengan tatapan arogan dari seorang Giana, pasti dia sudah langsung muak dan akan berusaha melupakan masalah ini. Ah sudahlah, aku tidak peduli dia muak, atau sakit perut sekalipun, karena yang terpenting sekarang aku dapat tidur!


*******************************************************
Januari, 5 2015

“Giana, apa kau sudah mempersiapkan fisikmu dengan baik? Kau tahu kan hari ini kau harus melakukan 5 penilaian sekaligus?” Aley bertanya padaku dengan sedikit ragu. Nama lengkapnya Ashley Rinanti, dan hanya aku yang memanggilnya Aley.

“Sepiring nasi, 1 butir telur rebus, 1 buah paha ayam, 1 helai daun selada dan segelas susu rasa coklat. Menurutmu aku akan sanggup atau muntah? Karena sekarang perutku terasa sangat menyebalkan.” jawabku sambil terus menepuk-nepuk perut dengan keras. Disaat masuk angin ternyata makanan dapat mempengaruhi perutku, jangan sampai kejadian memalukan itu terjadi saat olahraga.


Lari 1200 meter

Hah! Rasanya aku ingin mati saja, ini sungguh tidak adil bagiku. Hanya karena pergi ke luar kota, aku mendapat perlakuan diskriminasi. Aley bercerita padaku, lari 1200 meter itu dilakukan dengan mengitari ruang seni sampai ruang gudang sebanyak 4 kali tanpa harus diawasi oleh bu guru. Dia melakukannya dengan jalan santai, bahkan dia sempat pergi ke kamar mandi untuk membenarkan rambutnya yang berantakan. Tidak bagiku, berlari 2 kali mengelilingi lapangan sekolah, tidak boleh jalan, dan selalu diawasi oleh mata kejamnya. Alhasil, waktu yang kudapat adalah 4 menit lebih 34 detik.

Lari 60 meter

Hal yang ku benci saat ini adalah aku tidak diberi kesempatan untuk memilih, setidaknya aku akan memilih olahraga ringan terlebih dahulu.

“Bersedia, siap, mulai……” yang aku pikirkan saat ini adalah rumus-rumus matematika. Itulah pengalih paling jitu disaat aku mulai merasakan mual yang sangat dahsyat.

“Cukup!”

Sit Up
“17,18,19,20….”

“Cukup! Payah sekali kamu. Kenapa Cuma dapat 20 saja dalam 1 menit?” terserah apa yang ingin dia katakan, aku tak akan peduli.

“Sit Up aku dapat sebanyak 31 kali.” Senyum licik Aley terus membekas dalam otakku. Pantas saja dia mendapatkan sebanyak itu, saat lari 1200 meter dia melakukannya selama 13 menit lebih 54 detik. Tenggorokanku terasa tercekik, perutku terasa sangat berat, dan lidahku terasa sangat pahit. Desakkan para oksigen yang ingin masuk ke dalam hidung membuat nafasku semakin terengah-engah.

Pull Up

“Sudahlah, sebaiknya kau menyerah saja. Badanmu itu tak seringan seperti yang kau bayangkan.” Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari tiang tersebut.

“Akan kutawarkan sebuah kesepakatan dari seluruh siswa perempuan. Apa kau mau?” jawaban Aley sedikit membuatku tenang.

“Kesepakatan? Apa maksudmu?”

“Bagi siswa perempuan yang tidak bisa melakukan pull up dengan baik, maka akan diberi poin sebanyak 1. Apa kau tertarik?” akhirnya aku setuju dengan kesepakatan tersebut tanpa pengawasan dari bu guru.

Lompat Vertikal

“Aku yakin, kau akan unggul dalam penilaian ini.” Aley terlalu memuji. Tangan kanan ku angkat lalu ku dempetkan ke dinding, kemudian dengan cara yang sama aku melompat dengan tinggi.

“Perbedaannya adalah 80 cm, wah sudah ku duga kau ini memang panjang tangan.” Kata Aley padaku.

***************************************************************

“Buuggg!”

Diam saja? Mana kata maaf darimu? Kau telah menganggu ketenanganku, aku berjalan santai dengan alunan musik dari earphoneku namun dengan sengaja kau menabrakku tanpa mengatakan maaf? Itulah modus para wanita saat ini, dia sengaja menjatuhkan kartu namanya di tengah jalan. Tidak ada maksud lain, aku mengambil kartu tersebut hanya sebagai formalitas saja.


Giana Anggun Lestari
20 Januari 2015



Bersambung…………….



Tidak ada komentar:

Posting Komentar