Tepatnya tanggal 1 November 2014, kami dari SMA Negeri Banyumas mendapatkan mandat untuk mengikuti acara "Aksi Jemput Sampah" yang diadakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyumas yang akan diadakan di Andhang Pangrenan. Salah satu aksi yang patut diacungi jempol karena peserta yang mengikuti aksi tersebut adalah siswa dan siswi SMA.
Informasi tersebut disampaikan oleh guru kami, waktu itu kami masih pada jam latihan pramuka rutin. Awalnya aku pikir, kegiatan tersebut sangat aneh. Kata dari "Aksi Jemput Sampah" tersebut sedikit menggelitik telingaku. Namun, tidak ada salahnya jika kita mencobanya. Kami berangkat dari sekolah membawa nama "Saka Kalpataru SMA Negeri Banyumas", kami harus bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik mungkin.
2 bus kecil itu telah menunggu kami, dengan seragam Kaos Lapangan dan Celana PDL, kami siap menjemputmu sampah. Sesampainya disana, kami langsung turun dari bus dan mulai menapaki arena Andhang Pangrenan, wow disana sangat ramai. Disana sedang diadakan gelar seni, namanya aku lupa (ah tidak penting).
Satu, dua, tiga orang memandang kami cukup lama. Mungkin mereka penasaran mengapa ada siswa siswi memakai seragam dengan menggunakan celana PDL memasuki tempat tersebut. Benar saja, semua pengunjung datang dengan baju gemerlap bagaikan lampu diskotik untuk menonton gelar seni, sedangkan kami datang dengan misi tersembunyi. Dengan segera kami berbaris membentuk tiga shaf dan siap menerima instruksi selanjutnya. Karung berbentuk tas telah kami genggam, dan untuk apa ini? Menjemput sampah, pikirku dalam hati.
Ternyata kami tidak sendiri, beberapa rombongan dari Dewan Saka pun turut hadir dalam acara tersebut. Mereka juga mendapat karung berbentuk tas seperti kami, yang berbeda itu pada seragam yang mereka pakai. "Rama-Shinta Jaya! Rama-Shinta Jaya! Rama-Shinta Jaya Jaya Jaya! Adiwiyata Yes!". Semangat tergugah, jiwa mulai berkobar, dan langsung menuju ke TKP! Disudut, ada puntung rokok, di tengah ada puntung rokok, di sela-sela paving ada puntung rokok juga.
Hampir setengah jam sampah yang aku dapat hanya puntung rokok.....lainnya plastik kecil. "Makanya, nyari tuh disemak-semak" saran temanku yang bernama Dodi. Ternyata benar! Di semak-semak, ku termukan botol minuman dan gelas plastik, lumayan lah sampahnya ada yang besaran dikit. Tepatnya pukul 09:00 WIB, kami berkumpul untuk menyerahkan hasil yang kami raih kurang lebih selama 1 jam. Ku sadari betul sampah yang aku dapat sangat sedikit, 50 gram tak sampai.
Suara raungan perut mulai terdengar, tidak hanya aku, yang lain pun begitu. Cuci tangan dulu dong sebelum makan, agar tangan selalu bersih. Sambil menunggu giliran mendapat sekardus oleh-oleh kecil, kami tak lupa untuk menerapkan budaya "antre". Duduk melingkar diatas rerumputan, rasanya nikmat sambil menyantap kue dan sedikit berleha-leha. Dewan Saka baru saja selesai, cukup tercengang aku, sampah yang mereka dapat lumayan banyak. Mungkin 4kali lipat dari yang aku dapat. Awal dari suatu pertemuan, rasanya kurang afdol jika kami tidak saling mengenal. Kami berbincang, bertanya, ternyata mereka orang yang ramah-ramah. Kardus bekas makanan itu tidak lupa kami kumpulkan, sebelumnya dilipat dulu teman, lalu masukkan ke dalam kardus, mungkin akan disetorkan ke bank sampah.
Pengalaman yang berkesan, jika kami tidak mengikuti aksi tersebut, mungkin seumur hidupku aku tidak akan pernah merasakan rasanya memungut sampah di keramaian. Banyak cara untuk melindungi dunia kita, banyak sekali hal positif yang kami dapat sepulang dari kegiatan ini. Oh iya, kami semua tak lupa untuk mengabadikan momen pada malam itu. Hidup Kalpataru!
Aksi keren, jangan cuma bisa nonton korean drama aja ya mega chayaaank
BalasHapuskeren dong, oke oke ;)
Hapus