Kamis, 18 Februari 2016

Lucid Dream

Di toko buku, aku mencari sebuah buku bersampul ungu dan bergambar pita berwarna hitam. Aku tidak mengerti mengapa aku mencari buku tersebut, seperti tanpa komando aku melakukannya. Hampir ratusan kali aku bertanya pada orang disekitar sini mengenai buku tersebut, namun tak ada satupun yang tahu.
“Buuuggg…..!” tak sengaja aku menabrak pintu masuk toko tersebut. Sesungguhnya tidak sakit, namun entah mengapa tubuhku langsung ambruk sesaat dan pening mulai terasa dikepalaku.
“Giana, kamu kenapa?” sapaan tersebut terdengar sangat asing ditelingaku. Sepertinya aku belum pernah mendengar suara orang tersebut. Saat aku memalingkan wajah, terlihat lelaki tersebut sedang menatapku penuh ceria dengan senyuman yang lebar tanpa ada rasa kasihan padaku. Itu bukan masalah bagiku, untung saja dia tampan, kalau tidak mungkin sudah aku tendang jauh-jauh dari hadapanku.
Perjelas mimpiku! Inilah mimpiku! Aku sang pengendali mimpi!
“Kamu siapa? Kenapa kamu tahu namaku?” tanyaku dengan serius.
“Kamu aneh deh, kita kan pacaran.” seketika dia bingung dengan pertanyaanku. Aku berusaha menemukan solusi agar aku dapat mengetahui namanya tanpa sepengetahuan lelaki ini.
Anggap saja dia “Mochi”. Lihat saja pipinya yang gendut.
“Mochi kita makan yuk, perutku terasa sangat lapar.”
“Ayo, aku juga lapar.” dia merespon baik ajakanku.
Semua yang aku lakukan pasti benar.
***************************************************************